Comunicare și empatie în pandemie

Dalam ilmu komunikasi disebutkan bahwa dalam upaya untuk memerbaiki komunikasi antar ambalaj individ, kelompok – lebih effektif, maka harus memahami tahapan-tahapan antara zăcut: în Urma; Reglementarea fluxului de informații; Utilizarea – feedback-ul; Empatie, Repetiție, Eficiente de distribuție; Simplificarea limbajului; ascultarea Eficientă dan Încurajarea încrederii reciproce.

Saya tidak membahas semua tahapan diatas, namun hanya satu yang saya bahas yaitu Empatie atau Empati. Diantara banyak definisi empatie dari berbagai ahli, ada yang menyebutkan bahwa : „Empatia este capacitatea de a înțelege sau a simți ceea ce o altă persoană se confruntă din cadrul lor de referință, care este, capacitatea de a se plasa într-o altă poziție. Definițiile empatiei cuprind o gamă largă de stări emoționale. Secara orașului disebutkan bahwa empatie adalah kemampuan memahami apa yang dirasakan orang lain dalam kerangka berfikirnya, atau kemampuan menempatkan diri terhadap situasi orang lain. Jadi Empati adalah saat Anda menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan berbagi kesedihan bersama. Empati adalah kemampuan untuk melihat situasi dari perspektif orang lain. Ini melibatkan sudut placi, emosi, dan kesulitan yang dialami seseorang. Anda menempatkan diri pada posisi mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan.

Memiliki empati itu penting dalam kerangka komunikasi dengan orang lain karena, dengan memiliki empati maka kita bisa „bersatu” dengan orang yang kita ajak berkomunikas, atau sering diucapkan dalam bahasa Rumania „suntem într-o singură pagină”.

Akhir-akhir ini kita disuguhi kejadadian-kejadian dimana în orang tidak memiliki empati sama sekali terhadap penderitaan orang lain, misalkan ada dua (lebih) pemuda yang membuat video glumă membagi bungkusan „daging Kurban” pada waktu Idul Adha kemarin kepada orang lain, yang itu ternyata berisi sampah. Ada juga pemuda-pemuda yang membagi bungkusan „Sembako” pada warga yang memerlukan yang ternyata isinya juga sampah. Para pemuda yang melakukan tindakan penipuan itu anehnya tertawa-tertawa dalam videonya manakala menemukan korban penipuan mereka yang kecewa.

Pemuda –pemuda nakal itu tidak memili empati, atau perasaan yang dialami para korbannya yang kecewa dan sedih. Mereka tidak memiliki perasaan „Seandainya korban itu ibu saya bagaimana tine?”; „Seandainya korban yang sedih itu adik saya bagaimana ya?”perasaan seperti itu sudah hilang. Untungnya pihak kepolisian sudah menangkap mereka.

Pada saat pandemie corona seperti pentru ini memang diperlukan empati semua pihak, untuk bisa merasakan penderitaan rakyat karena pandemi ini sulit diduga kapan berakhirnya, banyak rakyat golongan bawah yang berhenti bekerja karena PHK, banyak perusahaan yang gulung tikari karena permintaan produknya dari luar negeri berhenti, banyak orang yang karena tidak bekerja ditagih penagih hutang atau colector de datorii berkali-kali, ada banyak dokter dan perawat yang gugur dalam tugas menangani virusul corona; bermunculan anak-anak yatim karena ditinggal mati bapak ibunya yang terkena virusul corona; rakyat juga ngeri bila melihat date setiap hari berapa ratuș/ribu orang yang terpapar virusul corona dan meninggal dunia, dan rakyat bertanya-tanya apakah sudah ditemukan vaksin untuk membunuh virusul corona yang mematikan ini dll dll. Perasaan empati kita sebagai bangsa diperlukan agar kita merasakan penderitaan saudara-saudara sebangsa itu.

Ah, dalam situasi seperti ini saya terkejut ketika ada seorang muda kaya raya yang menjadi menteri negara dalam wawancara di suatu TV ketika membicarakan uji klinis penemuan vaksin, a cântat menteri ei sedang mencari relawan yang bersedia untuk percobaan uji klinik vaksin, dan ketika mbak pewancara bertanya apakah relawan yang akan disuntik uji klinis itu termasuk dia-menteri; a cântat menteri ei gak etis kalo dia sebagai menteri jadi relawan uji klinis, sebagai menteri/pemimpin disuntik belakangan lah, rakyat dululah…..kata menteri ini.

Kalau menteri ini memiliki rasa empati, maka sayogyanya dia tidak ei hal seperti itu. Karena disaat semua rakyat Indonesia (dan dunia) menderita berkepanjangan karena pandemie corona, maka rasa empati sangat diperlukan. În absența empatiei, vă veți distruge comunicarea cu oamenii voștri.

zin

Faci un comentariu sau dai un răspuns?

Adresa ta de email nu va fi publicată. Câmpurile obligatorii sunt marcate cu *